Tuesday, June 20, 2006

DOA KIAI SEPUH

Republika, Minggu, 18 Juni 2006

DOA KIAI SEPUH
Cerpen Humam S Chudori


Sejak Kadir ke rumah Kiai Sepuh, banyak orang yang mengatakan sang kiai mendukung pencalonan lelaki bertubuh tegap itu sebagai bupati. Tidak jelas siapa yang mula-mula menyebarkan berita ini. Yang pasti, berita itu tersebar setelah dua kali Kadir bertandang ke rumah lelaki berusia tiga perempat abad lebih itu.

Masyarakat memang banyak yang percaya pada keampuhan doa lelaki yang sudah lama hanya bisa duduk di kursi roda itu. Mereka sangat meyakini karomah yang dimiliki sang kiai. Berita adanya restu dari sang kiai terhadap calon pemimpin itu, tentu saja, makin meyakinkan para pendukung Kadir. 'Sang jago' dianggap mendapat restu dari sang kiai. Dan, usaha yang mendapat restu dari Kiai Sepuh hampir bisa dipastikan selalu berhasil. Sementara, dua calon lainnya tak ada yang sowan ke rumah sang kiai.

Meskipun berita itu sudah sangat santer, menyebar, sang kiai tetap saja tak pernah mau tahu kalau dirinya dianggap mendukung salah satu calon pemimpin wilayah itu. ''Mendengar masalah-masalah dari luar, apalagi yang sifatnya duniawiah, dapat menjerumuskan seseorang menjadi penghuni neraka,'' demikian prinsip Kiai Sepuh yang diperoleh dari sang guru, ayah kandungnya sendiri, sebelum ia dipercaya menggantikan kedudukan sang ayah untuk memimpin pondok pesantren.

Sejak memimpin pondok pesantren, Kiai Sepuh nyaris tak pernah keluar dari lingkungan pesantrennya. Kesibukan sehari-harinya hanya mempelajari kitab kuning, ber-muzakarah, memimpin majelis zikir di masjid yang terletak di depan rumahnya, serta kegiatan ibadah mahdhah lainnya. Apalagi sejak dua tahun lalu, setelah ayah dari lima orang anak dan kakek tiga belas cucu
itu harus berkursi roda akibat terjatuh di kamar mandi. Ia semakin jarang keluar rumah. Bahkan hanya
sesekali keluar dari kamar, tempatnya ber-taffakur. Mungkin karena ia sudah tidak memimpin pondok
pesantren lagi.

Memang, sudah tiga tahun lebih kepemimpinan pondok pesantren dipercayakan kepada Nurdin, anaknya yang kedua. Anak pertama Kiai Sepuh, Sholawati, adalah seorang perempuan. Rumah Kiai Sepuh terletak di tengah pondok pesantren yang didirikan almarhum ayahnya. Rumah itu tak pernah sepi dari tamu. Bukan hanya orang yang tinggal di sekitar pondok pesantren saja tamu
yang datang. Banyak pula orang dari luar kota. Setiap malam Jumat, Kiai Sepuh mengadakan majelis zikir di masjid depan rumahnya. Usai berzikir bersama ia memberikan tausiah. Tidak jarang masjid itu tak mampu menampung jamaah. Karena saking banyaknya orang dari luar kota yang ikut hadir dalam majelis zikir, kendati tidak setiap malam Jumat Kiai Sepuh akan memimpin acara tersebut. Apalagi setelah ia hanya bisa duduk di kursi roda.

Sebenarnya Kiai Sepuh tidak pernah mengatakan mendukung atau merestui Kadir sebagai calon bupati. Baginya siapa pun boleh datang untuk bersilaturahmi ke rumahnya. Boleh datang ke pondok pesantrennya. Boleh menghadiri majelis zikirnya. Meskipun tidak setiap kali majelis zikir yang diselenggarakan pasti akan diisi tausiah olehnya. Melainkan oleh murid-murid yang telah mendapat kepercayaan sang kiai untuk memberikan tausiah.
Pada hari Jumat, setelah melaksanakan shalat dhuha, Kiai Sepuh akan keluar dari kamar. Memberi kesempatan kepada para jamaah -- terutama yang datang dari luar kota -- yang ingin bertemu dengannya. Kendati akhirnya hanya bisa berjabat tangan dengan sang kiai, mereka yang datang dari luar kota tidak merasa kecewa. Sebab, untuk bisa berbincang-bincang dengan sang kiai sangat
tidak memungkinkan. Apalagi jika menyadari jamaah yang datang ke tempat itu sangat banyak. Mereka sudah cukup bersyukur apabila bisa mencium tangan sang kiai, dan ini diartikan akan mendapatkan berkah dari sang kiai.

Hasil penghitungan pemilihan suara sudah selesai. Ternyata, Kadir calon yang dianggap telah direstui
oleh Kyai Sepuh tak berhasil meraih suara terbanyak. Berati ia gagal menjadi bupati. Betapa kecewa Kadir dan para pendukungnya. Jamaah majelis zikir Kiai Sepuh mulai berkurang, setelah Kadir gagal menjadi bupati. Kendati pondok pesantrennya tetap tidak berubah. Tak ada santri yang keluar.

''Benar bahwa iman itu ada saatnya bertambah dan ada saatnya berkurang. Barangkali, saat ini keimanan masyarakat tengah menurun. Hingga banyak orang mulai malas menghadiri pengajian,'' pikir Kiai Sepuh, tatkala menyadari majelis zikirnya tidak seramai dulu.

Ustad Sani merasa heran. Ia tidak dapat memahami kenapa majelis zikir itu tidak seramai dulu. Meski
orang-orang yang tinggal di luar kota masih saja mengalir. Namun, tidak sebanyak dulu orang yang hadir di majelis zikir yang diselenggarakan Kiai Sepuh pada setiap malam Jumat. ''Jangan-jangan karena Pak Kiai sudah jarang memberikan tausiah pada majelis zikir?'' pikir Ustad Sani.

''Tapi apa mungkin? Bukankah Pak Kiai sudah hamper satu tahun tak pernah memberikan tausiah sendiri,'' bantah batinnya sendiri, ''Tetapi, kenapa baru sekarang jamaah menjadi berkurang.'' Jangan-jangan ada yang menyebarkan fitnah terhadap Pak Kyai? Tetapi, apa ada yang berani berbuat demikian? Atau justru fitnah itu ditujukan untuk saya, karena selama ini saya yang menggantikan beliau memberikan tausiah. Toh, sampai saat ini beliau masih tetap yang memimpin jamaah
zikir. Setumpuk pertanyaan memenuhi benak Ustad Sani. Namun, tak satu pun yang mampu dijawabnya sendiri.

''Doa Kiai Sepuh sekarang sudah tidak makbul lagi.'' ''Buktinya, Pak Kadir, satu-satunya calon yang
mendapat restu dari Pak Kiai, gagal jadi bupati.'' ''Buat apa kita ke sana kalau cuma sekedar untuk bersalaman.''


''Pantas, anak saya tetap juga belum berjodoh, padahal sudah hampir satu tahun saya rajin menghadiri majelis zikir Pak Kiai.'' ''Anak saya juga tak diterima di sekolah yang diinginkannya.'' ''Saya juga. Sudah puluhan kali ikut majelis zikir Kiai Sepuh. Tapi, usaha saya tetap tak berubah. Tetap saja tidak maju-maju. Bahkan belakangan ini malah merosot. Mungkin doa Pak Kiai sudah tak makbul lagi.''

Masih banyak lagi komentar senada yang menilai doa Kiai Sepuh sudah tidak semakbul dulu lagi. Demikian berita yang beredar dalam masyarakat. Itu terjadi setelah Kadir gagal menjadi bupati. Kiai Sepuh hanya tersenyum, tatkala mendapat laporan tersebut dari ustad Sani. ''Saya tidak tahu siapa yang mula-mula menyebarkan berita seperti itu, Pak Kiai,'' lanjut Ustad Sani. ''Terus kalau tahu, apa yang akan kamu lakukan? '' tanya Kiai Sepuh. Ustad Sani tak berkutik mendapat pertanyaan itu. ''Lagipula untuk apa perlu tahu hal-hal semacam itu,'' lanjut sang kiai. Ustad Sani diam. ''Kalau sekarang mereka tak mau melakukan zikir bersama, memangnya kenapa? Kalau mereka menilai saya seperti itu, ya alhamdulillah! Sebab, kalau tujuan mereka ikut dalam majelis zikir untuk hal-hal semacam itu, ingin usahanya lancar, mendapat jodoh, memperolah pekerjaan, mempertahankan jabatan, sungguh tidak tepat nawaitu mereka itu. Meskipun berdoa juga merupakan salah satu upaya agar keinginannya terkabul. Tetapi, kalau tujuan mereka ikut majelis zikir di sini seperti itu jelas keliru.'' Ustad Sani masih tetap diam. ''Sekali lagi kita perlu bersyukur,'' lanjut Kiai Sepuh, kalem. Tenang. Tidak ada tanda-tanda kalau ia kecewa dengan laporan tersebut. ''Dari sini kita jadi tahu mana yang emas dan mana yang loyang.''

Lelaki baya itu sama sekali tidak terkejut mendengar berita yang disampaikan Ustad Sani. Lantaran selama ini ia berharap agar yang datang ke majelis zikirnya adalah orang-orang yang ingin ber-taqarrub kepada Allah, bukan untuk yang lain-lain. Namun, kalau kemudian Allah mengabulkan hajatnya setelah bergabung dalam majelis zikir, itu soal lain. Karena itu hak prerogratif Allah.

Sebenarnya sejak beberapa tahun lalu ia sudah tahu, tidak sedikit orang yang datang ke majelis zikirnya hanya untuk mendapatkan sesuatu di luar yang dimaksudkan Kiai Sepuh. Tidak sedikit orang yang datang ke majelis zikirnya mengharap berkah dari sang kiyai agar usahanya lancar, anaknya mendapatkan jodoh, bisa memperoleh pekerjaan dengan mudah, atau meraih jabatan tertentu. Namun, ia tidak pernah merasa mampu melarang mereka yang datang dengan tujuan lain. Bukan untuk ber-taqarrub kepada Allah. Melainkan agar usahanya maju, bisa meraih jabatan, untuk mendapat pekerjaan atau atau hal-hal yang bersifat keduniaan. ''Jadi Kamu tak perlu punya prasangka yang bukan-bukan kepada mereka,'' ujar sang kiai.

''Bukankah sudah sering kamu sampaikan meskipun Allah telah berfirman, Ud uuni astajib lakum, toh
terkabulnya doa bisa bermacam-macam. Bisa langsung, bisa digantikan, atau ditunda di akherat kelak,'' tambah sang kiai. Ustad Sani diam. Mungkinkah tausiah yang selama ini saya sampaikan tidak dipahami mereka? Tanyanya dalam batin. Namun, pertanyaan itu tak mampu ia utarakan kepada Kiai Sepuh.

Pun Ustad Sani tidak berani minta penilaian orang lain tentang caranya memberi tausiah. Sebab, hal ini dapat menyebabkan riya. Padahal riya bisa berarti syrik kecil. Atau, sebaliknya justru ia tak pernah bersedia memberikan tausiah lagi. Sebab, minta penilaian orang dapat berarti macam-macam. Bisa ditafsirkan macam-macam oleh dirinya.

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home